Gambar

Pegunungan Kendeng yang kaya akan air

Persawahan dengan tanaman padi sepanjang tahun di kaki Pegunungan Kendeng

Gambar

Pepohonan rindang tepi salah satu Penampungan air di Pegunungan Kendeng

Rabu, 24 Desember 2014

Blog Sebagai Media Untuk Menyalurkan Aspirasi

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis.
Pegunungan Kendeng....Sebenarnya adalah sebuah naskah buku yang aku tulis dengan judul " Harga Mati Untuk Pegunungan Kapur Utara". Naskah buku yang sudah aku siapkan, ku kirimkan ke sebuah penerbit terkenal. Naskah diterima oleh Penerbit. Harapan saya.... naskah buku tersebut dapat diterbitkan dan dapat dibaca oleh masyarakat secara umum. Tetapi mungkin dikarenakan isi naskah buku tidak sesuai dengan harapan Penerbit, sehingga naskah buku dikirimkan kembali kepada Penulis. Rasa kecewa dan sedih memang yang aku peroleh. Kecewa karena hasil jerih payahku nggak dapat diterbitkan. Sedih karena aku sudah meluangkan waktu, tenaga, pikiran  serta sedikit biaya untuk menulis naskah buku tersebut. Sedih dan kecewa karena naskah buku yang telah aku tulis tidak dapat dibaca oleh beberapa orang  Pengambil Keputusan dan Kebijakan yang berhubungan dengan Pegunungan Kapur Utara.

Tapi, aku nggak kurang akal. Naskah buku aku jilid menjadi 3 jilid. Satu naskah aku kirimkan ke Penerbit, satu naskah aku yang aku kirimkan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia di Istana Negara dua tahun lalu yang pada ada saat itu masih dijabat oleh Bapak Dr. Susilo Bambang Yudhoyono. Dan satu naskah sebagai arsip. Dibaca atau tidak aku tidak tahu. Semoga naskah buku tersebut telah dibaca. Dengan demikian salah satu penentu kebijakan yang berhubungan dengan Pegunungan Kapur Utara atau Pegunungan Kendeng sebagai sedikit masukan atau informasi yang sebenarnya.

Selain itu ....Aku juga berfikir bahwa hasil tulisan yang telah aku ketik seharusnya sampai kepada masyarakat.umum terutama yang tinggal di sekitar Pegunungan Kendeng yaitu Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Blora, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Rembang dan Kabupaten Jepara dapat membaca hasil tulisan ini. Untung ada media Internet. Dengan sedikit kemampuan penulis ....Akhirnya hasil naskah buku dengan judul " Harga Mati Pegunungan Kapur Utara" dapat aku terbitkan sendiri dengan mengubah judul menjadi " Pegunungan Kendeng". dengan demikian hasil tulisanku dapat dikonsumsi dan dapat dibaca oleh masyarakat belahan dunia manapun.

Alhamdulillah...Kesedihan dan kekecewaan saya sudah terobati. Sebuah aspirasi Penulis  tentang Pegunungan Kendeng sudah aku postingkan di Blog dengan judul "Pegunungan Kendeng" yang sebenarnya adalah dari naskah buku asli degan judul "Harga Mati Untuk Pegunungan Kapur Utara". Dan aku sangat bersyukur dan berterima kasih, blog ini telah dikunjungi dan telah dibaca oleh masyarakat pengguna internet sejak diterbitkan hingga sekarang sejumlah lebih dari 7.000 pengunjung. Semoga Pengambil Kebijakan dan Pengambil Keputusan yang berkaitan dengan Pegunungan Kapur Utara atau Pegunungan Kendeng juga memahami begitu pentingnya keberadaanya atau kelestariannya untuk kelangsungan hidup masyarakat di sekitar pegunungan tersebut.

Senin, 27 Oktober 2014

Mitos Pegunungan Kendeng

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis.
Pegunungan Kendeng atau Pegunungan Kapur Utara adalah pengunungan Kapur yang terbentang dari Kudus ,Pati, Purwodadi, Rembang dan Blora. Sesuai dengan karakteristik gunung kapur maka terdapat sungai-sungai didalam pegunungan tersebut. Sehingga sungai tersebut dikeluarkan. Ada sekitar 145 mata air raksasa di Pegunungan Kendeng tersebut. Silakan Lihat Disini

Ternyata ada sebuah mitos yang beredar di masyarakat. Mitos tersebut sampai sekarang masih dipercayai secara kuat oleh sebagian besar masyarakat penghuni Pegunungan Kendeng dan masyarakat Kab. Kudus bagian selatan, masyarakat Kab Pati di bagian selatan, Kab. Rembang, Kab. Blora. Mitos itu adalah Pegunungan Kendeng (Pegunungan Kapur Utara) adalah merupakan penutup sebuah sungai yang begitu besar yang mana sungai tersebut adalah berasal dari dalam tanah yang terhubung secara langsung dengan Laut Kidul/Laut Selatan atau Samudera Hindia. Pegunungan Kendeng dipercaya oleh sebagian besar masyarakat merupakan penutup dari sungai pengubung yang besar tersebut.

Sebuah mitos yang mungkin benar, Kita lihat di Purwodadi ada Bledug Kuwu. Menurut Legenda yang ada, Bleduk Kuwu ada hubungannya dengan Laut Selatan. Bleduk Kuwu air yang keluar asin dan bisa dibuat garam. Garam Kuwu namanya.

Shobat pembaca Pegunungan Kendeng, apabila Pegunungan Kendeng dihancurkan untuk bahan bangunan atau diolah untuk bahan utama Pabrik Semen maka menurut mitos tersebut penutup Sungai dalam tanah yang terhubung dengan Laut Selatan akan terbuka. Sebagai akibatnya adalah air dari Laut Selatan sebagian akan keluar melalui rongga yang besar di dalam tanah untuk menyatu dengan Laut Jawa. Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Rembang diramalkan akan menjadi lautan, alias tak ada lagi tempat bagi penduduk dari keempat Kabupaten tersebut untuk tinggal. Tidak ada lagi kehidupan manusia. Kalau Pegunungan Kendeng dihancurkan maka akibatnya akan sangat fatal. Mungkinkah hal ini benar? Kita lihat saja, Bencana Lumpur Lapindo Sidoharjo, walau sudah ada usaha yang maksimal, tetapi bencana itu belum bisa dihentikan. Kita tidak ingin di kawasan ini tenggelam menjadi Luatan bukan?

Betul atau tidak mitos tersebut adalah Wallohualam, hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. Terlepas benar atau tidaknya sebuah mitos ini, kita seharusnya menjaga kelestarian Pegunungan Kendeng yang selama ini telah dianugerahkan Yang Maha Kuasa untuk ditanami tumbuh-tumbuhan. Hutan yang berada di Pegunungan Kendeng sebagian  mengalami kerusakan karena oleh sebagian oknum penduduk yang menggali untuk kepentingan bahan bangunan. Dan juga selama ini ada usaha-usaha untuk Pembangunan Pabrik Semen di wilayah tersebut.

Senin, 22 September 2014

Bertanam Padi Di Musim Kemarau?

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis.
Baiklah para pembaca Blog Gunung Kendeng yang berbahagia. Sudah sekitar 4 tahun penulis nggak mengisi blog ini, sekarang ini rasanya ada sedikit hal yang perlu aku tulis disini. Tema yang begitu menarik.

Pada umumnya, bertanam padi itu di musim penghujan. Tapi dapatkah bertanam padi di musim kemarau? Dikala air untuk mandi dan mencuci pakain saja sulit, tapi apa mungkin untuk bertanam padi? Pernyataan yang begitu logis. Bila para pembaca dari Pati Kota menuju ke arah Purwodadi, di sebelah selatan Kretek Tanjang di bagian kanan jalan raya  terdapat hamparan tanaman padi yang menghijau baru ditanam oleh para petani.

Selidik punya selidik, ternyata air untuk mengairi sawah-sawah  tersebut disedot dari Sungai Tanjang. Sungai Tanjang,Sungai Ngantru,Sungai Nggilis,Sungai Juwana adalah sama sungainya tapi beda namanya. Merupakan satu aliran. Sungai Juwana berhulu di Pegunungan Kapur Utara atau Pegunungan Kendeng dan bermuara di Laut Jawa. Luar biasa....Sungai ini ternyata penyedia air untuk pertanian dikala musim kemarau. Disamping itu air dari sungai ini menurut pendapat para ahli merupakan penetral air tanah wilayah Pati Selatan supaya air tanah sumbernya tidak asin.

Bercocok tanam padi atau tanaman pertanian yang membutuhkan banyak air tidak hanya di daerah Tanjang, tetapi dilakukan di kanan dan kiri Sepanjang Sungai tersebut. Oleh karena itu, menurut pendapat penulis, kita perlu menjaga kelestarian Sungai tersebut. Penanaman hutan kembali di daerah Pegunungan Kendeng dan menjaga kelestariannya adalah sebuah keharusan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa akan adanya usaha-usaha ingin mengexploitasi Pegunungan Kendeng akan diolah menjadi Komoditi Semen adalah merupakan sebuah ancaman besar akan berhenti mengalirnya air dimasa Musim Kemarau di Sungai tersebut. Dengan berhentinya aliran air di Sungai tersebut secara otomatis, para petani di sekitar aliran Sungai, tak dapat lagi bertanam padi di musim kemarau.

Oleh karena itu, maka kita perlu menjaga Kelestarian Sungai, agar ketersediaan pangan khususnya di wilayah Pati dan sekitarnya tetap terjaga. (To be Continued)

Kamis, 08 November 2012

MATA AIR -MATA AIR RAKSASA PEGUNUNGAN KENDENG

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis
Di wilayah Karst Pati (Sukolilo, Kayen, Tambakromo) terdapat 145 sumber sumber air raksasa yang mengalir sepanjang tahun. Keberadaan Sumber Daya Alam di wilayah tersebut, mungkin merupakan satu satunya di negeri tercinta kita Indonesia atau bahkan satu satunya di dunia.Fenomena alam atau keajaiban alam tersebut adalah karena keberadaan air dari sumber-sumber air alam raksasa tersebut sudah dimanfatkan oleh ribuan bahkan hingga jutaan penduduk di kawasan Pegunungan Kendeng Utara sejak ratusan tahun yang lalu untuk kebutuhan air bersih dan pengairan sawah untuk pertanian. 

Mengapa penulis katakan penggunaan air tesebut telah digunakan sejak ratusan tahun yang lalu? Sebagai salah satu bukti bahwa pemanfaatan air tersebut oleh penduduk setempat sejak ratusan tahun yang lalu adalah keberadaan Makam Keramat Sunan Prawata di desa Prawata di Kecamatan Sukolilo. Kita ketahui bersama bahwa Sunan Prawata dan pengikutnya hidup pada masa Kerajaan Islam Demak Bintoro. Keberadaan makam tersebut tidak jauh dari Sumber Air Raksasa Widodaren di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Mengapa mata air yang keluar dari Pegunungan Kapur Utara penulis namai dengan sumber alam raksasa. Dalam dunia pewayangan raksasa mempunyai tubuh yang amat tinggi dan sangat besar. Mata air-mata air yang keluar dari pegunungan tersebut mempunyai rata-rata lebar dengan diameter ½ meter hingga 1 meter, bahkan ada yang lebih. Sedangkan kata Alam karena sumber yang ada tidak dibuat oleh manusia. 

Keberadaan sumber raksasa tersebut dicipta oleh Yang Maha Kuasa untuk manusia di sekitarnya agar mereka dapat mengambil kemanfaatan dari ratusan sumber tersebut.. Perlu diketahui bahwa air dalam jumlah yang besar yang keluar dari sumber-sumber raksasa ini sangat jernih,tidak berbau, alamiah dan tidak tercemar.Karena kejernihan dan sehatnya air, ribuan bahkan jutaan penduduk yang berada di wilayah Pegunungan Kendeng Utara telah memanfaatkannya untuk kepentingan mandi,memasak,air minum, mencuci, memberi makan ternak dan sebagian besar air digunakan untuk pengairan pesawahan dan perkebunan /pategalan. 

 Yang menjadi Ajaib adalah ketidak lelahan sumber-sumber raksasa tersebut untuk mengeluarkan air di musim kemarau atau musim penghujan. Selain itu tidak hanya satu sumber tetapi terdapat ratusan sumber air di tempat yang tidak terlalu jauh di wilayah Pegunungan Kapur Utara yang mungkin keberadaan sumber-sumber yang berukuran besar ini tidak ada duanya di dunia. 

 Karena keterbatasan waktu, tenaga dan fikiran penulis untuk melakukan survey lapangan, dari 145 sumber atau mata air raksasa yang ada, penulis baru dapat menyebutkan beberapa nama dari mata air atau sumber raksasa. Inilah sumber-sumber air alam raksasa yang terdapat di Pegunungan Kapur Utara yang terdapat di wilayah Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora.
1. Sumber Sentul, Misik, Sukolilo, Pati.
2. Sumber Goa Pancur, Jimbaran, Kayen, Pati.
3. Sumber Dodo, Jimbaran, Kayen, Pati.
4. Sumber Goa Wareh, Kedumulya, Sukolilo, Pati.
5. Sumber Asem Bosok, Kedumulya, Sukolilo, Pati
6. Sumber Geneng, Sukolilo, Pati
7. Sumber Plosokuning, Sukolilo, Pati.
8. Sumber Reco, Sidowayah, Sukolilo, Pati
9. Sumber Gemblung, Sukolilo, Pati.
10. Sumber Dandang, Sukolilo, Pati.
11. Sumber Mbendo, Sukolilo, Pati.
12. Sumber Kali Sumber, Lebak Kulon, Sukolilo, Pati.
13. Sumber Goa Bandung, Kedungwinong Sukolilo, Pati.
14. Sumber Angling Darmo, Mlawat, Baleadi, Sukolilo, Pati.
15. Sumber Widodaren, Prawoto, Sukolilo, Pati.
16. Sumber Banyu Racah, Bunagung, Beketel, Kayen, Pati.
17. Sumber Sendang, Beketel, Kayen, Pati.
18. Sumber Mangin, Beketel, Kayen, Pati.
19. Sumber ‘Sumber’ Beketel, Kayen, Pati.
20. Sumber Goboyo, Brati, Kayen, Pati.
21. Sumber Jeruk Wangi, Beketel, Kayen, Pati.
22. Sumber Tunggangan, Sendang, Beketel, Kayen, Pati.
23. Sumber Buran, Kebunagung, Kayen, Pati.
24. Sendang Lanang, Maitan, Tambakromo, Pati.
25. Sendang Klumpit, Maitan, Tambakromo, Pati.
26. Sumber Pakis, Tambakromo, Pati.
27. Sumber Ngesong, Wirosari, Grobogan.
28. Sumber Mudal, Wirosari, Grobogan.
29. Sumber Agung, Ngaringan, Grobogan.
30. Sumber Bentolo, Todanan, Blora.
31. Sendang Pengilon, Goa Trawang, Blora.

 Perlu diketahui bahwa 145 sumber- sumber air alam raksasa yang ada di wilayah Karst Pegunungan Kendeng Utara mengeluarkan air sepanjang tahun dan tidak mengenal musim artinya musim kemarau atau musim penghujan air tetap mengalir dari ratusan sumber-sumber raksasa tersebut. (Ditulis oleh P Damin, SMPN 1 Kayen)

GOA WAREH SUKOLILO, KAB PATI

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis
     Goa Wareh, begitu namanya terletak di Desa Kedumulya, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dari kota Pati kira-kira 20 km ke arah selatan. Desa Kedumulya terletak di Kaki Pegunungan Kendeng Utara bagian utara. Goa wareh berada di sebelah selatan desa tersebut. Dari Jalan Raya Pati Purwadadi kurang lebih 20 km .Karena tak ada transportasi umum yang menuju ke goa tersebut, para pengunjung dapat menggunakan sepeda, sepeda motor atau mobil pribadi untuk sampai ke lokasi. 

Dari jalan raya Pati-Purwadadi, jalan masuk menuju ke Goa Wareh, aspalnya sudah banyak yang menghilang. Pada 2 April 2010, penulis bersama keluarga dengan menggunakan sepeda motor mendatangi tempat tersebut untuk mengadakan pengamatan sekaligus rekreasi keluarga yang murah meriah. Setelah 1 jam perjalanan dari Kota Pati dan kira-kira akan sampai ke lokasi, penulis menghentikan sepeda motor dan bertanya pada dan bertanya pada 3 anak laki-laki kecil yang sedang memancing ikan di sungai tepi jalan masuk ke lokasi. Mereka menggunakan kail sederhana, mereka mendapat 5 ikan kecil yang direnteng dengan rumput. Penulis bertanya kepada mereka ,” Mas, jalan menuju ke Goa Wareh arahnya kemana?” Mereka mejawab secara bergantian,”Ikuti saja jalan beraspal ini nanti Bapak akan sampai ke Goa Wareh. “ Jauh, Mas?” penulis menyela. “ Tidak, Pak,” mereka menjawab serentak. 

 Dengan yakin penulis bersama istri dan tiga anak mengikuti dan menelusuri jalan yang beraspal yang telah ditunjakkan oleh ketiga bocah kecil tadi.Tapi sayang jalan yang beraspal yang digambarkan oleh ketiga bocah kecil tadi tidak lagi beraspal. Banyak aspal yang sudah terlepas dari jalan tersebut, tetapi bekas-bekas aspal yang masih tersisa cukup sebagai petunjuk jalan bagi penulis untuk sampai ke lokasi. Di tepi kanan dan kiri jalan menuju ke tempat lokasi ditanami pohon-pohon jati dan tanaman keras lainnya yang tumbuh dengan lebat. Setelah 1 km dari jalan utama, kuhentikan sepeda motor sejenak. Kuarahkan pandanganku ke selatan. 

Dihadapan penulis terhampar persawahan hijau nan subur yang begitu luas. tidak hanya tanaman padi, tetapi pohon-pohon jati yang sangat lebat di kejauhan menjulang tinggi ke langit biru. Selain itu pohon-pohon mangga, pohon-pohon mangga dan tanaman pertanian lainnnya yang tumbuh dengan subur. Akhirnya pandangan penulis tertuju daerah pegunungan di ( sebagian kecil Pegunungan Kapur Utara) yang ada di Desa Sukolilo dan Desa Kedumulya. Nah di tanah sekitar perbukitan yang menurut rencana akan didirikan Pabrik Semen Gresik. Dari kejauhan tampak pegunungan yang hijau dan biru. Berbagai jenis rerumputan dan tanaman pegunungan lainnya tumbuh secara alamiah menutupi wilayah permukaan pegunungan tersebut sehingga tampak hijau dan biru kalau dilihat dengan mata telanjang dari jarak yang cukup jauh. 

Di kaki pegunungan tersebut tampak dari kejauhan banyak ribuan pohon jati dan tanaman keras lainnya yang tumbuh dengan subur. Apakah benar pegunungan tersebut yang menurut rencana akan dikepras dan dihancurkan untuk pendirian Pabrik Semen Gresik jenis tanahnya adalah tandus dan tidak subur? Menurut bukti-bukti yang ada atau kenyataan dengan tumbuh suburnya berbagai jenis tanaman pertanian dan tanaman keras lainnya di wilayah tersebut maka pendapat atau penelitian yang menyatakan bahwa tanah di wilayah tersebut adalah tandus dan tidak dapat ditanami adalah tidak benar. Justru dikaki Pegunungan Kapur yang menurut rencana akan didirikan Pabrik Semen adalah wilayah pertanian yang sangat subur yang dapat ditanami padi, tebu sepanjang tahun. Selain itu menurut realita yang ada bahwa wilayah bebatauan atau tanah di pegunungan yang tersebut adalah kaya akan phospat alam. 

Sebagaimana telah dijelaskan penulis pada bab sebelumnya phospat alam adalah senyawa antara kotoran kelelwar dan batuan kapur dalam waktu yang lama. Adalah pendapat yang tidak benar dan tidak masuk akal bahwa tanah di Kecamatan Sukolilo atau tanah-tanah yang ada di wilayah Pegunungan Kapur Utara adalah jenis tanah yang tandus dan tidak dapat ditanami. Untuk sebagian kecil wilayah memang demikian tetapi sebagian besar tanah yang ada di Pegunungan Kapur Utara dan sekitarnya adalah daerah yang sangat ccocok untuk pertanian dan daerah yang sangat subur. Sebagai bukti bahwa wilayah Kecamatan Sukolilo adalah wilayah yang sangat subur adalah ketika kita mau masuk Desa Sukolilo dari arah Pati di lereng Pegunungan sebelah kiri jalan terlihat ratusan tanaman keras yang besar-besar dan subur. Di sebelah kanan jalan raya di pertanahan yang landai sawah ditanami padi,tebu,jagung dan tanaman pertanian lainnya. Sebagai bukti lain adalah disekitar SMPN 1 Sukolilo ribuan pohon jati yang tumbuh subur disana. 

Dari Sukolilo ke barat arah prawoto sawah-sawah di sebelah kanan jalan ditanami padi dan jagung dan tumbuh dengan subur. Setelah berhenti untuk merenung, penulis melanjutkan perjalanan ke Goa Wareh. Setelah tiba di lokasi , ada 3 anak putri seusia kelas 7 smp sedang mandi dan bermain dengan air yang sangat jernih yang keluar dari samping kiri mulut Goa Wareh. Datang dua bocah laki laki kecil dengan mebawa pakaian seragam merah putih. Setelah selesai mencuci mereka terjun ke air tersebut. Setelah sampai disana ketiga anak penulis menyempatkan mandi dan bermain di tempat tersebut. Perlu diketahui bahwa air yang keluar dari mulut goa tersebut sangat jernih. 

Sumber Air Alam Raksasa Goa Wareh tidak mengenal musim. Dengan diameter kira-kira 1 meter sumber tersebut mengeluarkan air jernih dan sehat salama musim penghujan dan selama musim kemarau. Tidak mengherenkan keberadaan air tesebut sangat berguana untuk kebutuhan air bersih sebagian besar masyarakat desa Kedumulya, Kecamatan Sukolilo. Kelebihannya digunakan untuk mengairi tanaman padi dan jagung sawah-sawah Desa Kedumulya dan sekitarnya. Apabila pengerukan pegunungan kapur yang terdapat aliran sungai bawah tanah yang menuju ke Goa Wareh dihancurkan untuk bahan baku semen, maka air dari Sumber Alam Raksasa Goa Wareh akan habis dan tidak ada aliran air lagi dari goa tersebut. Dampak negative apa yang akan tejadi seandainya Sumber Air Alam Raksasa Goa Wareh tidak lagi mengeluarkan air? 1.Daerah Kedumulya dan Cengkalsewu dan sekitarnya yang semula melimpah air bersih dan tercukupinya air untuk pertanian akan kekurangan air bersih atau air untuk pertanian. 2.Sumber-sumber air dalam tanah di sekitar wilayah Desa Kedumulya dan Cengkal sewu akan berkurang bahkan dapat mati. 3.Sebagian peduduk yang menggantungkan pengairan dari Sumber Air Raksasa Goa Wareh akan kesuliatan air. Mereka tidak mungkin dapat panen sampai 2 atau 3 kali dalam setahun. (Ditulis oleh P Damin, SMPN 1 Kayen)

SUMBER NDODO, JIMBARAN, KAYEN, KAB. PATI


Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis

Sumber Air Raksasa Dodo, terlertak di wilayah Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Wilayah ini adalah termasuk di Wilayah Pegunungan Kendeng/Kapur Utara. Seperti halnya sumber air raksasa yang lain,air yang keluar dari sumber tersebut dengan diameter kira-kira 1 meter digunakan untuk kebutuhan air bersih dan untuk pengairan persawahan Desa Jimbaran dan persawahan di desa-desa sekitarnya. Sumber tersebut tidak mengenal musim. 

Baik di musim kemarau terlebih pada musim penghujan air tetap mengalir. Disekitar tempat tersebut tumbuh beraneka tanaman pertanian yang sangat subur. Demikian pohon pohon jati yang tumbuh dengan lebat. Disekitar sumber air raksasa terdapat makam tua yang menurut penduduk setempat merupakan makam keramat. Di bagian bawah sumber air tersebut terdapat penampungan air yang cukup besar untuk tandon air pertanian dikala puncak kemarau tiba.

CURUG TADAH UDAN SUKOLILO, KAB. PATI

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis
Curug Tadah Udan berada di Desa Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dari jalan pasar lama Sukolilo (Jl. Raya Pati-Purwadadi), kira-kira perjalanan 4 menit dengan sepeda motor ke arah timur.Ketika penulis mengunjungi curug tersebut di sepanjang perjalanan ke tempat lokasi tampak di kanan dan kiri jalan gang desa banyak pralon pralon yang terisi air bersih yang tersalurkan ke rumah-rumah penduduk Su
kolilo dan sekitarnya. Setelah dua menit perjalanan dari jalan utama penulis berhenti sesaat melihat menara penampungan air setinggi kira-kira 3 meter. Penulis bertanya pada salah satu penduduk yang pada saat itu sedang duduk disekitar tower tersebut.”Maaf, Pak, Pralon-pralon ini berasal dari mana? Ia menjawab dengan ramah “ Dari Curug Tadah Udan, Pak”. Setelah mengucapkan terima kasih penulis akhirnya menemukan petunjuk arah. Kuikuti saja pralon-pralon yang mengarah ke Curug Tadah Udan tersebut. 

Kemudian penulis menghentikan sepeda motor dan memarkir sepada di tempat yang aman karena jalan di tepi sungai yang menuju ke Curug terputus karena banjir. Luar biasa! Penulis tekagum kagum saat tiba di sekitar lokasi. Tebing yang begitu terjal yang hampir 90 derajat dengan ketinggian kurang lebih 25 meter yang mana diatas bukit tersebut ditumbuhi dengan pohon jati dan mahoni yang sangat subur. Suara air terjun sudah tedengar dari kejauhan sekitar 100 meter dari lokasi. Dalam benak saya Curug Tadah Udan airnya ada kalau pada musim penghujan. Ternyata dugaan penulis meleset jauh. Curug Tadah Udan mengalirkan air sepanjang tahun. Artinya air yang cukup besar yang jatuh dari ketinggian 10 meter tersebut tetap mengalir dikala musim penghujan maupun musim kemarau. 

Ini terbukti ketika penulis berjalan menuju ke lokasi dengan berpapasan dengan nenek tua. Maaf, Mbah, apakah air di sungai ini yang dari Tadah Udan tetap mengalir kalau pada waktu kemarau? Beliu menjawab dengan sedikit nada kesal” Kalau tidak ada air itu nanti saya mencuci dan mandi pakai apa, Pak?. Ia menjawab sambil berlalu. Walaupun demikian dari bibir penulis tetap mengucapkan matur nuwun atau terima kasih. Penulis mendaki jalan yang sedikit terjal untuk sampai ke lokasi. 

Di sekitar Curug Tadah Udan terdapat tumbuh-tumbuhan besar dan yang sangat subur dan menjulang tinggi ke langit biru sehingga membuat di sekitar tempat tesebut rindang. Dengan adanya kandungan uap air dari Curug dan rindangnya pepohonan membuat udara di tempat tersebut cukup dingin dan segar. Suara air yang jatuh dan kicauan beberapa burung masih terdengar di sekitar Curug tersebut menambah suasana alami tempat tersebut. Suasana yang demikian membuat penulis untuk berlama-lama untuk tetap tinggal dan menikmati suasana yang tidak dapat ditemukan di wilayah-wilayah kecamatan lain di Kabupaten Pati. 

 Air dalam jumlah yang cukup besar meluncur tiada henti kupandangai dari jarak sekitar 10 meter. Subhannallah. Heran, kagum dan sedikit berampur rasa takut karena tidak ada orang lain pada saat penulis berkunjung ke sana.Dengan memandangi air terjun kuarahkan dan kuambil beberapa gambar dengan kamera digital dari Curug Tadah Udan tersebut. Tapi sayang Obyek Wisata lokal ini belum tegarap secara maksimal sehingga belum layak jual. Kemudian penulis merenung, apabila perbukitan atau gunung-gunung kapur yang berada diatasnya yang terdapat sumber-sumber air alam raksasa yang menyuplai air tesebut dihancurkan untuk diambil batuan kapur untuk bahan baku semen , maka berhentilah air yang selama ini mengalir di Curug Tadah Udan tersebut. Adalah sudah menjadi kewajaran keberadaan Curug Tadah Udan dipertahankan secara gigih oleh masyarakat Sukolilo dan sekitarnya. (Ditulis Oleh P Damin)

SUMBER SENTUL MISIK SUKOLILO KAB. PATI

Pada akhir tahun 2009 ribuan masyarakat Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Kayen yang berada di sekitar Pegunungan Kendeng Utara yang diusung dengan puluhan truck,puluhan bus,puluhan mobil pribadi dan berkendara sepeda motor berunjuk rasa di alun alun pati dan sekitarnya untuk menolak secara tegas Rencana Pendirian Pabrik Semen Gresik di wilayah Kecamatan Sukolilo. Penulis pada saat pulang dari mengajar berpapasan di jalan raya Pati Kayen dengan ribuan pengunjuk rasa tersebut. Penulis menepi ke tepi jalan dan berhenti seraya menghitung jumlah kendaraan yang digunakan oleh pengunjuk rasa. Sebagian besar dari pengunjuk rasa bermata pencaharian petani.Mereka melambaikan tangan kepada penulis dan orang yang berada di jalan tersebut. Penulis mengangkat kedua tangan dengan ibu jari menunjuk keatas serasa sependapat dengan suara hati mereka.

Yang lebih mencengangkan lagi ketika penulis tiba di Simpang Lima Pati atau Kota Pati, di sana tak ada kerusakan.Para pengunjuk rasa tidak melakukan tindakan yang anarkis. Ya…..alam demokrasi. Semua insan manusia boleh mengeluarkan pendapat tetapi tidak boleh anarkis. Tindakan mereka mungkin dapat diterima. Mereka hanya menyuarakan keinginan hati mereka.Ribuan petani tersebut tidak mengijinkan atau atau menolak secara tegas daerah, tanah, wilayah yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian,sebagai tempat untuk membesarkan jutaan ribuan anak mereka, sebagai tempat untuk beribadah, sebagai tempat untuk mendapatkan kedamaian dan ketentraman akan diexplorasi dan diexploitasi oleh sebuah perusahaan raksasa. Pada awal April 2010, penulis mencoba menelusuri sebenarnya apa saja yang dipertahankan demikian gigih oleh ribuan masyarakat.Pada awal bulan tersebut penulis mendapat Tugas Negara untuk mengawasi Ujian Akhir Nasional di salah satu SMP di Sukolilo.Penulis pikir adalah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Setelah menyelesaikan tugas pengawasan selama dua jam, penulis tidak langsung pulang tetapi ingin mengunjungi beberapa sumber air alam raksasa yang ada di desa Sukolilo. Di perjalanan penulis bertanya pada beberapa penduduk setempat. Penduduk tersebut menunjuk pada nama Sumber Sentul atau selanjutnya penulis sebut dengan Sumber Air Alam Raksasa Sentul di dukuh Misik Sukolilo. Seperti seorang wartawan yang professional, penulis menyusuri tempat tesebut. Letak dari sumber tersebut kira-kira 1 km dari jalan raya ke arah timur. Pada waktu itu penulis sengaja membawa kamera digital. Sesampai tiba di lokasi, penulis arahkan foto digital ke beberapa obyek dilokasi tesebut dan mengambil gambarnya. Seraya mengambil gambar, penulis teheran-heran dan tertegun-tegun akan keajaiban alam tersebut.Ada lubang yang sangat besar di bawah bukit dengan diameter kira-kira 1 meter. Lubang tersebut mengeluarkan air yang jernih dan segar.”Sumber Sentul” begitu masyarakat Misik dan Sukolilo menyebutnya. Air yang begitu jernih ditampung pada bak penampungan yang cukup besar dengan ukuran panjang 6 meter dan lebar 5 meter dan ketinggian 1 meter. Bak tersebut terdapat dua pintu air ke arah barat dan utara. Bak air yang mengarah ke utara debit airnya lebih besar. Di kedua bak air tesebut ditanam puluhan pralon yang berdiameter cukup lebar. Pralon-pralon yang ditanam tersebut fungsinya untuk menyalurkan air ke rumah-rumah penduduk Misik dan Sukolilo bagian bawah. Air dari sumber tersebut digunakan untuk keperluan memasak,air minum, mandi, mencuci dan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya. Walaupun dipasang puluhan pralon besar, air dari Sumber Air Alam Raksasa Sentul tetapi air masih tersisa lebih besar yang disalurkan ke parit-parit untuk kepentingan irigasi pertanian untuk mengairi tanaman-tanaman padi, tebu, jagung, kacang, pisang dan tanaman pertanian lainnya. Setelah kira-kira lima menit berada di tempat tersebut, penulis didatangi oleh dua penduduk setempat kira-kira berumur 45 tahun usianya.Mereka bertanya seraya menyelidiki,”Maaf, Pak…..Bapak kemari dan mengambil gambar-gambar ini untuk apa? Penulis memberi penjelasan pada kedua penduduk setempat tersebut bahwa tujuan dari kedatangan penulis ke tempat lokasi adalah ingin melihat secara dekat Sumber Sentul, mengambil beberapa gambar dari sumber tersebut, kemanfaatan keberadaan Sumber Sentul bagi masyarakat sekitar, serta ingin mengetahui alasan-alasan apa yang melatar belakangi keinginan yang sangat besar untuk mempertahankan secara mati-matian keberadaan sumber tersebut. Setelah penulis jelaskan maksud dan tujuan kedatangan ke tempat lokasi mereka berdua dapat menerima kehadiran penulis di tempat tersebut dengan senang hati. Setelah pecakapan berlangsung 5 menit akhirnya penulis mengetahui bahwa nama dari penduduk Misik tersebut adalah Pak Sudarto dan Pak Sutrisno. Kedua bapak tersebut menjelaskan bahwa Sumber Air Alam Raksasa Sentul tak pernah berhenti baik pada musim kemarau maupun musim penghujan.Beliu juga menjelaskan bahwa air dari sumber tersebut sebagian disalurkan ke rumah-rumah warga dan sebagian besar yang lain digunakan untuk mengairi padi dan jagung di sawah-sawah Dusun Misik, Dusun Ngawen, Dusun Bambok dan Desa Baturejo. Pada pertemuan yang tak disengaja tersebut bapak- bapak tadi menambahkan bahwa tanah pegunungan ( Pegunungan Kapur Utara) dari Dusun Misik, Desa Sukolilo, Desa Tompe Gunung, Desa Sumbersoko sampai ke Gelur dan daerah-daerah sekitarnya adalah daerah-daerah yang sangat subur.Apabun tanaman pertanian atau perkebunan yang ditanam di tempat-tempat tersebut akan tumbuh dengan subur dan berbuah lebat. Setelah kira kira percakapan berlangsung seperempat jam, secara tiba-tiba penulis melihat seekor ikan emas yang sangat besar di bak penampungan sumber air tersebut. Akhirnya penulis bertanya tentang keberadaan ikan tersebut. Beliu berdua menjelaskan bahwa penduduk Misik Sukolilo sengaja menabur bibit ikan air tawar seperti ikan emas, ikan tawes,ikan nila,ikan gurami, ikan lele dumbo dan berbagai jenis benih ikan air tawar ke Sumber Sentul. Mereka berdua menjelaskan juga bahwa pada siang hari ikan-ikan yang sudah ditebarkan satu atau dua ikan yang terlihat tetapi pada malam hari banyak sekali ikan yang menampakkan diri mereka. Banyak nila yang besar-besar muncul dan lele-lele dumbo sebesar kaki manusia dewasa juga terlihat di bak penampungan Mata Air Alam Raksasa tersebut. Pada malam hari mereka krluar dari persembunyiannya. Yang dimaksud dengan pesembunyian ikan-ikan adalah adanya lorong-lorong besar, goa-goa alam, dan sungai-sungai bawah tanah di wilayah Karst Sukolilo dan Kayen ( atau Pegunungan Kapur Utara).Masyarakat Misik Sukolilo sengaja menabur berbagai jenis benih air tawar, tetapi mereka tidak memanen atau mengambil ikan-ikan tersebut walaupun ikan ikan tersebut sudah besar-besar. Yang aneh bin ajaib ikan ikan yang besar-besar yang berada di bak penampungan tersebut tidak ngintir (mengikuti arus air ke bawah).Tidak hanya ikan tetapi disekitar tempat tersebut ditemukan juga kura-kura. Luar biasa, sebuah tempat perlindungan alam untuk berbagai jenis ikan air tawar dan kura-kura di Karst Sukolilo. Walaupun ikan-ikan besar tadi tak mau mengikuti arus ke bawah, tetapi penulis berpendapat bahwa terkadang banyak telur telur ikan dan anak anak ikan yang kecil-kecil tersebut terlepas dari habitatnya dan mengikuti arus ke sungai-sungai kecil di bawahnya. Tidaklah mengherankan pada musim penghujan sungai-sungai yang berada di Sian, Talun, Tanjang, Nggilis, Ngantru, Sampang yang bermuara di Sungai Juwana kaya akan ikan air tawar. Selanjutnya penulis bertanya pada Pak Sudarto” Sebenarnya Sumber Sentul ini berasal dari mana?”. Beliu menjawab bahwa Sumber Sentul airnya berasal dari tempat yang jauh didalam tanah pegunungan tersebut dan tembusannya adalah ditengah-tengah persawahan. Mengapa pertanyaan yang sangat bodoh penulis lontarkan. Ya tentu saja air yang besar tersebut berasal dari sungai-sungai bawah tanah atau rekahan-rekahan pada Pegunungan Kapur Utara. Lebih jauh beliau berdua menjelaskan bahwa di waktu bersih desa (sedekah bumi/nyadran), beberapa warga masuk ke lobang sumber atau rong untuk membersihkan akar-akar yang menggantung. Selanjutnya Pak Sudarto berkata : “ Kami penduduk Misik dan Sukolilo tidak merelakan Pak kalau Sumber Sentul akan dikelola oleh pihak ketiga. Kami sejak jaman dulu hingga sekarang menggunakan Sumber Sentul secara gratis atau tidak membayar. Kami hanya mengeluarkan uang secara bergotong royong kalau ada pralon yang pecah atau rusak. Sudah selayaknya penduduk Misik Sukolilo dan sekitarnya tetap menjaga dan merawat kelestarian Sumber Air Alam Raksasa Sentul ini. Setelah satu jam penulis mengadakan wawancara secara tidak resmi, penulis arahkan kedua matanya ke atas memandang pohon-pohon besar, tinggi dan subur yang menjulang tinggi ke langit sekitar Sumber Air Alam Raksasa Sentul. Beberapa menit kemudian ada 4 anak laki-laki kecil yang melepas baju dan terjun di sebelah utara bak penampung. Mereka memanfaatkan air untuk mandi dan bermain. Penulis sangat iri dan ingin terjun bersama mereka tetapi sayang penulis pada saat itu tidak membawa celana pendek sehingga mengurungkan niatnya. Dari hasil wawancara dari kedua penduduk Misik, Sukolilo dapat diambil kesimpulan kemanfaatan dari Sumber Air Alam Raksasa Sentul, adalah: 1.Air Sumber tersebut dimanfaatkan oleh ribuan masyarakat Misik, Sukolilo dan sekitarnya secara gratis. 2.Air Sumber Sentul dapakai untuk memberi minum jutaan ternak dan unggas. 3.Air Sumber Sentul dipakai untuk mengairi ratusan hingga ribuan hektar sawah. 4.Sumber Sentul sebagai perlindungan berbagai jenis ikan air tawar. 5.Sumber Sentul airnya dimanfaatka oleh anak-anak Misik, Sukolilo dan sekitarnya sebagai tempat permaianan air secara gratis. Memang tidak berlebihan kalau sebagian besar Masyarakat Misik, Sukolilo dan penduduk di sekitar yang telah memanfaatkan air sumber tersebut mempertahankan keberadaan Sumber Air Alam Raksasa Sentul dengan harga mati. Tidak akan pernah dijual dengan harga sebesar apapun.Setelah mengucapkan rasa terima kasih pada Bapak Sudarta dan Bapak Sutrisno serta makhluk gaib yang berada disekitar sumber tersebut akhirnya penulis pulang.(Ditulis oleh P Damin)